PENERAPAN GCG

 Penerapan GCG  pada perusahaan 

    Pada perusahaan pertamina penerapan CGC sebagai berikut 

    Pedoman Tata Kelola Perusahaan ini disusun sebagai acuan dalam mengelola PT Pertamina (Persero) berdasarkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang menjadi kaidah dan pedoman bagi pengurus Perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Penerapan prinsip-prinsip GCG  (Transparency, Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness) diperlukan agar Perusahaan dapat bertahan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. GCGdiharapkan dapat menjadi sarana untuk mencapai visi dan misi Perusahaan.

    Pedoman Tata Kelola Perusahaan ini mengatur struktur badan tata kelola perusahaan (RUPS, Direksi dan Dewan Komisaris), proses tata kelola perusahaan, organ pendukung badan tata kelola perusahaan serta proses tata kelola Perusahaan.

Pedoman Tata Kelola Perusahaan  

Selain itu, Pertamina juga membangun sinergi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (“KPK”) dalam kerangka kerja sama pencegahan terhadap potensi tindak korupsi di lingkungan perusahaan. Pertamina sebagai BUMN penyedia energi di Indonesia memiliki tanggung jawab untuk senantiasa menjaga dan menyelamatkan aset-aset negara yang dikelola oleh Pertamina di seluruh daerah dan selanjutnya dioptimalkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Dalam kerangka kerja sama tersebut, Pertamina senantiasa meminta dukungan dari KPK untuk membantu mengawasi pelaksanaan program dan proyek-proyek strategis di bidang hulu hingga hilir migas agar seluruh program dan proyek strategi tersebut berjalan lancar dan sesuai dengan target yang ditetapkan oleh Pemerintah.


Penerapan Dokumen Regulasi Nasional terkait tata Kelola TI Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas

    Dinas Kesehatan yang berada di Kabupaten Banyumas dengan memakai COBIT 5 fokus penilaian pada level manajemen. Penelitian bertujuan menilai penggunaan teknologi informasi dalam mengetahui teknologi informasi pada saat ini telah memenuhi target yang diharapkan oleh instansi terkait. Penelitian ini menetapkan target capability level 3 (established process) menunjukan pengelolaan proses sebelumnya telah diaplikasikan menggunakan prosedur yang sudah ditetapkan, yang dapat memperoleh hasil proses yang diharapkan. 

Penerapan Balance Score Card dan IT Balance Scorecard di  PT. Multi Kharisma Perkasa  


    PT. Multi Kharisma Perkasa adalah perusahaan yang bergerak pada bidang distribusi produk-produk NDT (Non Destructive Testing). NDT adalah sebuah rangkaian aktivitas yang digunakan untuk melakukan pengecekan pada material tanpa harus merusak dengan metode-metode tertentu. PT. Multi Kharisma Perkasa atau yang biasa disingkat MKP, telah bergelut di bidang usaha ini sejak tahun 1996.

     Produk unggulan yang dimiliki MKP adalah Krautkrammer dan memegang status agen tunggal untuk produk tersebut. Namun sejak Krautkrammer diakuisisi oleh GE di tahun 2004, MKP kehilangan statusnya sebagai agen tunggal Krautkrammer di Indonesia. Agar bisnis tetap berjalan, MKP bekerjama dengan Sonatest Ltd dari UK dan berhasil menyandang status agen tunggal Sonatest untuk wilayah Indonesia. Namun kerjasama tersebut tidak memberikan keuntungan yang optimal karena pelanggan masih belum tahu akan produk-produk dari Sonatest Ltd. Oleh karena itu di tahun-tahun awal setelah kehilangan keagenan Krautkrammer, MKP bekerja keras dalam melakukan promosi produk-produk Sonatest. Faktanya, setelah promosi dilakukan terus menerus, tidak memberikan kenaikan keuntungan pada perusahaan. Bahkan cenderung mengalami penurunan kinerja sejak tahun 2008 hingga 2013. Setelah ditelusuri, ternyata sistem pengukuran kinerja di MKP masih menggunakan sistem yang tradisional, yaitu pengkuran hanya pada aspek finansialnya saja.

     Aspek finansial saja tidak efektif untuk mengukur kinerja perusahaan karena masih ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk mendukung bisnis. Oleh karena itu akan digunakan balanced scorecard (bsc) yang pertama kali diperkenalkan oleh Kaplan dan Norton di tahun 1992. Pada bsc ini akan diukur kinerja perusahaan dari 4 perspektif, yaitu perspektif finansial, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Keempat perspektif ini masing-masing memiliki sasaran, ukuran, target dan inisiatif yang akan dianalisa. Hasil analisa menunjukkan bahwa keempat perspektif tersebut saling terkait dan memberikan kontribusi satu sama lain. Berdasarkan hasil scorecard, masih banyak aspek-aspek yang harus diperbaiki karena implementasi terhadap strategi yang dimiliki MKP masih belum dilakukan dengan optimal. Aspek yang paling mendasar untuk dilakukan perubahan dan perbaikan adalah melalui perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, yaitu dari sisi pengembangan kompetensi dan produktivitas pegawai.




Komentar